Harmoni Hati dan Raga

Harmoni Hati dan Raga: Dosen Fakultas Kedokteran UNIMMA Kupas Integrasi Perspektif Islam dan Medis dalam Seminar PDGI Temanggung

TEMANGGUNG – Pendekatan medis konvensional kini semakin didorong untuk bersinergi dengan dimensi spiritual guna mencapai kesembuhan yang holistik. Menjawab tantangan tersebut, dr. Fatnan Setyo H., Sp.PD., MARS., AIFO-K., FINASIM, dosen dari Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Muhammadiyah Magelang (UNIMMA), hadir sebagai narasumber utama dalam seminar ilmiah yang diselenggarakan oleh Persatuan Dokter Gigi Indonesia (PDGI) Temanggung.

Kegiatan yang dirangkaikan dengan acara halal bihalal ini bertajuk “Ceramah Ilmiah Harmoni Hari dan Raga: Refleksi Idul Fitri dalam Menghadapi Dunia Nyata dan Maya”. Bertempat di RS PKU Temanggung pada Sabtu (11/4), forum ini menjadi wadah diskusi bagi para profesional kesehatan, mulai dari dokter gigi, dokter umum, bidan, hingga perawat vokasional.

Dalam paparannya yang berjudul “Perspektif Islam dan Kedokteran Gigi: Antara Ikhtiar dan Tawakal”, dr. Fatnan menyoroti betapa krusialnya tinjauan Islam terhadap kecemasan yang menyertai penyakit kronis, yang pada akhirnya berimplikasi pada kesehatan gigi dan mulut. Ia menekankan bahwa dalam dunia medis, pendekatan holistik sangat diperlukan, terutama dalam memahami kondisi psikologis pasien dengan penyakit kronis.

Menurut dr. Fatnan, rasa sakit tidak selamanya harus dipandang sebagai tanda keterpurukan fisik, melainkan sebuah proses spiritual yang mendalam. “Sakit bukan tanda ditinggalkan, melainkan bagian dari proses detoksifikasi ruhani,” ujarnya. Ia merujuk pada prinsip La Tahzan dalam Al-Qur’an Surat Al-Baqarah ayat 286, yang menegaskan bahwa Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Perspektif iman inilah yang mampu mengubah penderitaan menjadi peluang pertumbuhan spiritual, yang menjadi landasan psikologis mutlak untuk penyembuhan.

Lebih lanjut, dari sisi klinis, dr. Fatnan membedah dampak biologis dari kecemasan kronis. Ia menjelaskan bahwa kecemasan bukan sekadar masalah jiwa, melainkan “patogen biologis” yang nyata. Efeknya dapat bermanifestasi secara langsung pada kesehatan mulut, seperti munculnya bruxism (gertakan gigi) pada otot rahang, xerostomia (mulut kering) pada kelenjar saliva, hingga gangguan pada mukosa dan jaringan periodontal.

Oleh karena itu, ia mendorong para dokter gigi untuk tidak hanya menjadi operator klinis, tetapi juga menjadi seorang muhasib—sosok yang membantu pasien menemukan kembali ketenangan dan harapan melalui pendekatan yang manusiawi dan islami. Di akhir sesi, ia mengingatkan bahwa menjaga kesehatan gigi dan mulut adalah bagian dari menjaga amanah tubuh yang telah dititipkan oleh Allah.

Partisipasi aktif dosen FK UNIMMA dalam kegiatan ini merupakan wujud kontribusi nyata perguruan tinggi dalam pengembangan keilmuan dan pengabdian masyarakat, khususnya dalam mengintegrasikan aspek medis dan spiritual dalam pelayanan kesehatan masa kini.

Informasi & Pendaftaran:
Website: fk.unimma.ac.id
Instagram: @fkunimma
Alamat: Jl. Mayjen Bambang Soegeng, Magelang
Kode Penulis: IP/RED-FKUNIMMA/2026

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *